Memahami Hakikat, Proses, Faktor, dan Teori Belajar dalam Perspektif Psikologi Pendidikan
A. Pendahuluan
Setiap hari manusia sebenarnya melakukan kegiatan belajar.
Seorang anak belajar berbicara dari lingkungan di sekitarnya. Anak belajar berjalan melalui proses mencoba dan berulang kali mengalami kegagalan. Mahasiswa belajar memahami materi melalui membaca, berdiskusi, bertanya, dan mengerjakan tugas. Bahkan seseorang dapat belajar dari pengalaman ketika melakukan kesalahan.
Namun, apakah semua perubahan yang terjadi pada seseorang dapat disebut sebagai belajar?
Misalnya, seorang anak bertambah tinggi karena pertumbuhan biologis. Apakah pertambahan tinggi tersebut merupakan hasil belajar?
Tentu tidak.
Karena itu, dalam psikologi pendidikan, belajar perlu dipahami secara lebih mendalam.
Belajar bukan sekadar mendapatkan informasi, bukan hanya menghafal, dan bukan pula sekadar duduk di kelas mendengarkan dosen.
Belajar merupakan proses yang melibatkan perubahan dalam diri seseorang sebagai hasil dari pengalaman, latihan, interaksi dengan lingkungan, dan proses mental.
B. Pengertian Belajar
Secara sederhana, belajar dapat dipahami sebagai:
Proses perubahan pada diri seseorang yang terjadi melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sehingga menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, atau perilaku.
Perubahan akibat belajar dapat terlihat dalam berbagai bentuk.
Misalnya:
- sebelumnya tidak bisa membaca → menjadi bisa membaca;
- sebelumnya tidak memahami konsep → menjadi memahami;
- sebelumnya tidak mampu menggunakan komputer → menjadi mampu;
- sebelumnya mudah menyerah → mulai memiliki ketekunan;
- sebelumnya tidak mampu bekerja sama → mulai mampu bekerja dalam kelompok.
Dengan demikian, belajar tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mencakup aspek:
Pengetahuan + keterampilan + sikap + perilaku.
C. Belajar Bukan Sekadar Menghafal
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap bahwa mahasiswa yang mampu menghafal materi berarti sudah belajar.
Padahal, seseorang dapat menghafal suatu konsep tetapi belum tentu memahaminya.
Contohnya:
Mahasiswa dapat menghafalkan definisi:
"Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman."
Tetapi ketika diberikan kasus nyata, mahasiswa tidak mampu menjelaskan apakah suatu perubahan merupakan hasil belajar atau bukan.
Dalam kondisi tersebut, mahasiswa mungkin mengingat informasi, tetapi belum tentu memahami konsep.
Belajar yang bermakna terjadi ketika seseorang mampu:
mengetahui → memahami → menggunakan → menganalisis → mengevaluasi → mengembangkan.
D. Ciri-Ciri Belajar
Untuk memahami apakah suatu proses dapat disebut belajar, terdapat beberapa ciri yang dapat diperhatikan.
1. Terjadi perubahan
Belajar menghasilkan perubahan tertentu.
Perubahan dapat berupa:
- bertambahnya pengetahuan;
- meningkatnya keterampilan;
- berubahnya sikap;
- berkembangnya cara berpikir;
- perubahan strategi dalam menyelesaikan masalah.
2. Perubahan relatif menetap
Perubahan akibat belajar bukan perubahan yang hanya berlangsung sesaat.
Misalnya seorang mahasiswa sekali dapat menjawab soal karena kebetulan menebak.
Hal tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia telah belajar.
Sebaliknya, jika setelah berlatih mahasiswa mampu memahami konsep dan menggunakannya kembali dalam situasi berbeda, perubahan tersebut lebih menunjukkan adanya proses belajar.
3. Terjadi melalui pengalaman
Belajar berkaitan dengan pengalaman.
Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui:
- membaca;
- mengamati;
- berdiskusi;
- mencoba;
- berlatih;
- melakukan praktik;
- menerima umpan balik;
- menyelesaikan masalah;
- berinteraksi dengan orang lain.
4. Melibatkan proses mental
Belajar bukan hanya proses yang terlihat dari luar.
Di dalam diri individu terjadi proses seperti:
- memperhatikan;
- mengingat;
- memahami;
- menghubungkan informasi;
- menafsirkan;
- memecahkan masalah;
- mengambil keputusan.
5. Bersifat aktif
Belajar akan lebih bermakna ketika individu terlibat secara aktif.
Mahasiswa yang hanya mendengarkan dosen selama dua jam belum tentu belajar secara optimal.
Sebaliknya, mahasiswa yang:
- bertanya;
- berdiskusi;
- menghubungkan materi dengan pengalaman;
- memecahkan kasus;
- melakukan praktik;
dapat mengalami proses belajar yang lebih mendalam.
E. Apa yang Bukan Belajar?
Penting bagi mahasiswa untuk membedakan perubahan karena belajar dengan perubahan yang bukan karena belajar.
1. Pertumbuhan fisik
Anak bertambah tinggi karena proses biologis.
Itu bukan belajar.
2. Kelelahan
Seseorang tidak mampu mengerjakan tugas karena sangat lelah.
Kondisi tersebut bukan berarti ia kehilangan kemampuan belajar.
3. Pengaruh obat atau zat tertentu
Perubahan perilaku akibat zat tertentu tidak otomatis menunjukkan proses belajar.
4. Refleks
Misalnya tangan spontan ditarik ketika menyentuh benda yang sangat panas.
Respons tersebut merupakan refleks, bukan hasil belajar.
Dengan demikian:
Tidak semua perubahan perilaku merupakan hasil belajar.
F. Tujuan Belajar
Secara umum, belajar bertujuan membantu individu mengembangkan berbagai kemampuan.
1. Ranah kognitif
Berkaitan dengan:
- pengetahuan;
- pemahaman;
- penerapan;
- analisis;
- evaluasi;
- kreativitas.
2. Ranah afektif
Berkaitan dengan:
- sikap;
- nilai;
- minat;
- motivasi;
- penghargaan terhadap sesuatu.
3. Ranah psikomotor
Berkaitan dengan:
- keterampilan;
- koordinasi gerak;
- kemampuan praktik;
- kemampuan melakukan suatu prosedur.
Karena itu, keberhasilan belajar tidak selalu harus terlihat dalam bentuk nilai ujian.
Mahasiswa dapat menunjukkan keberhasilan belajar melalui:
"Saya sekarang bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya belum bisa saya lakukan."
G. Proses Belajar
Proses belajar dapat digambarkan secara sederhana:
Stimulus/Pengalaman
↓
Perhatian
↓
Pemrosesan informasi
↓
Pemahaman
↓
Latihan/Pengalaman
↓
Umpan balik
↓
Perubahan kemampuan/perilaku
Misalnya mahasiswa belajar melakukan presentasi.
Ia:
- mengamati contoh presentasi;
- memahami teknik presentasi;
- mencoba presentasi;
- mendapatkan masukan;
- memperbaiki kesalahan;
- mencoba kembali;
- akhirnya menjadi lebih percaya diri dan terampil.
Itulah proses belajar.
H. Teori-Teori Belajar
Dalam psikologi pendidikan terdapat beberapa teori penting yang membantu menjelaskan bagaimana manusia belajar.
1. Teori Behavioristik
Teori behavioristik melihat belajar terutama sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati sebagai hasil hubungan antara stimulus dan respons.
Salah satu konsep pentingnya adalah:
Stimulus → Respons → Konsekuensi
Perilaku yang mendapatkan konsekuensi tertentu dapat memengaruhi kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali.
Contoh dalam pembelajaran
Guru memberikan pertanyaan.
Mahasiswa menjawab dengan benar.
Guru memberikan apresiasi:
"Jawabanmu bagus."
Mahasiswa menjadi lebih termotivasi untuk berpartisipasi kembali.
Tokoh yang berkaitan dengan behaviorisme
- Ivan Pavlov
- John B. Watson
- Edward Thorndike
- B. F. Skinner
Kelebihan
Teori ini berguna untuk:
- pembentukan kebiasaan;
- latihan keterampilan dasar;
- pembelajaran bertahap;
- penguatan perilaku positif.
Keterbatasan
Jika diterapkan secara berlebihan, pembelajaran dapat menjadi terlalu berorientasi pada:
hadiah, hukuman, dan hasil yang terlihat
sehingga proses berpikir dan pemaknaan siswa kurang mendapat perhatian.
I. Teori Kognitif
Teori kognitif menekankan bahwa belajar melibatkan proses mental.
Individu tidak hanya menerima stimulus, tetapi:
- memperhatikan;
- mengolah informasi;
- mengingat;
- menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya;
- membentuk pemahaman.
Dengan demikian:
Belajar bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi juga perubahan cara memahami sesuatu.
Contoh:
Mahasiswa belajar tentang perkembangan emosi anak.
Ia tidak hanya menghafal definisi emosi, tetapi menghubungkan teori tersebut dengan pengalaman ketika melihat anak menangis, marah, atau takut.
J. Teori Konstruktivisme
Menurut perspektif konstruktivisme, pengetahuan tidak sekadar "dimasukkan" dari dosen ke dalam kepala mahasiswa.
Mahasiswa membangun pemahamannya melalui:
- pengalaman;
- interaksi;
- diskusi;
- eksplorasi;
- refleksi;
- pemecahan masalah.
Contohnya, daripada dosen hanya menjelaskan:
"Anak yang memukul belum tentu anak agresif."
Dosen dapat memberikan kasus:
"Seorang anak memukul temannya setelah mainannya direbut."
Kemudian mahasiswa diminta menganalisis:
"Apakah anak tersebut agresif?"
Mahasiswa mencari alasan, berdiskusi, dan membangun pemahamannya sendiri.
Inilah pembelajaran konstruktivistik.
K. Teori Belajar Sosial
Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia dapat belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain.
Anak tidak harus mengalami semuanya secara langsung untuk dapat belajar.
Anak dapat belajar dengan mengamati:
- orang tua;
- guru;
- teman;
- tokoh yang dikagumi;
- lingkungan sosial;
- media.
Misalnya seorang anak melihat gurunya menyelesaikan konflik dengan tenang.
Anak dapat belajar bahwa konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi, bukan kekerasan.
Karena itu:
Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga model perilaku.
Apa yang dilakukan guru dapat menjadi pembelajaran bagi anak.
L. Belajar sebagai Proses Sosial
Belajar tidak selalu berlangsung secara individual.
Banyak pembelajaran terjadi melalui interaksi dengan orang lain.
Mahasiswa belajar melalui:
- diskusi;
- kerja kelompok;
- presentasi;
- debat;
- peer teaching;
- pemecahan masalah bersama.
Anak juga belajar melalui interaksi dengan:
- orang tua;
- guru;
- saudara;
- teman sebaya.
Karena itu, lingkungan sosial memiliki peran besar dalam proses belajar.
M. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar
Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor.
1. Faktor internal
Berasal dari dalam diri individu.
Contohnya:
- motivasi;
- minat;
- perhatian;
- kondisi fisik;
- kondisi emosional;
- kemampuan awal;
- rasa percaya diri;
- kesiapan belajar.
Misalnya mahasiswa yang sedang sangat cemas mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi meskipun sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik.
2. Faktor eksternal
Berasal dari lingkungan.
Contohnya:
- keluarga;
- guru/dosen;
- teman;
- lingkungan belajar;
- fasilitas;
- suasana kelas;
- metode pembelajaran.
3. Faktor pendekatan belajar
Cara seseorang belajar juga memengaruhi hasil.
Misalnya:
Belajar pasif
Membaca materi berulang kali tanpa menguji pemahaman.
Belajar aktif
- membuat pertanyaan;
- menjelaskan kembali;
- berdiskusi;
- mengerjakan latihan;
- membuat hubungan antarkonsep;
- mempraktikkan materi.
Pendekatan belajar aktif cenderung membuat mahasiswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
N. Motivasi dalam Belajar
Motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar.
Motivasi dapat berasal dari dalam maupun luar diri individu.
1. Motivasi intrinsik
Seseorang belajar karena memang memiliki dorongan dari dalam.
Misalnya:
"Saya ingin memahami psikologi anak karena saya ingin menjadi guru yang lebih baik."
2. Motivasi ekstrinsik
Seseorang belajar karena adanya faktor dari luar.
Misalnya:
"Saya belajar karena ingin mendapatkan nilai bagus."
Keduanya dapat berperan dalam proses belajar.
Namun, pembelajaran yang sehat diharapkan secara bertahap tidak hanya bergantung pada:
"Saya belajar karena ada nilai."
tetapi berkembang menjadi:
"Saya belajar karena saya memahami manfaatnya."
O. Peran Emosi dalam Belajar
Belajar tidak hanya berkaitan dengan otak dan kemampuan berpikir.
Emosi juga memiliki hubungan erat dengan proses belajar.
Mahasiswa yang merasa:
- aman;
- dihargai;
- diterima;
- memiliki kesempatan bertanya;
cenderung lebih siap terlibat dalam pembelajaran.
Sebaliknya, rasa:
- takut;
- malu;
- tertekan;
- terus-menerus cemas;
dapat mengganggu perhatian dan keterlibatan dalam pembelajaran.
Karena itu, lingkungan belajar yang baik bukan berarti lingkungan yang selalu menyenangkan tanpa tantangan.
Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang:
aman secara psikologis tetapi tetap menantang secara intelektual.
P. Belajar dari Kesalahan
Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
Seorang anak belajar berjalan bukan karena selalu berhasil, tetapi karena:
mencoba → jatuh → mencoba lagi → mendapatkan pengalaman → memperbaiki gerakan.
Begitu pula mahasiswa.
Kesalahan dalam:
- menjawab pertanyaan;
- presentasi;
- mengerjakan tugas;
- memahami konsep;
dapat menjadi sumber belajar apabila mendapatkan umpan balik yang tepat.
Karena itu:
Kesalahan bukan selalu tanda kegagalan belajar. Kadang kesalahan justru menjadi bahan bakar untuk belajar.
Q. Umpan Balik dalam Belajar
Umpan balik atau feedback membantu individu mengetahui:
- apa yang sudah benar;
- apa yang perlu diperbaiki;
- bagaimana cara memperbaikinya.
Umpan balik yang baik sebaiknya tidak hanya mengatakan:
"Salah."
Tetapi menjelaskan:
"Bagian ini sudah tepat. Namun, hubungan antara konsep A dan B perlu diperjelas karena..."
Dengan demikian, mahasiswa mengetahui arah perbaikannya.
R. Belajar yang Bermakna
Belajar menjadi bermakna ketika informasi baru dapat dihubungkan dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki.
Contoh:
Mahasiswa belajar teori perkembangan anak.
Jika hanya menghafal:
"Perkembangan sosial emosional adalah..."
pemahamannya mungkin cepat hilang.
Tetapi jika ia menghubungkan dengan pengalaman:
"Oh, ternyata anak yang dulu saya lihat menangis ketika ditinggal ibunya sedang mengalami proses..."
maka konsep tersebut menjadi lebih bermakna.
Karena itu, dosen perlu membantu mahasiswa menghubungkan:
Teori → pengalaman → kasus nyata → refleksi.
S. Belajar Aktif
Pembelajaran yang baik tidak selalu berarti dosen berbicara lebih banyak.
Dalam pembelajaran aktif, mahasiswa diberi kesempatan untuk:
- bertanya;
- berpikir;
- berdiskusi;
- memecahkan masalah;
- menjelaskan;
- melakukan praktik;
- memberikan pendapat;
- melakukan refleksi.
Dosen berperan sebagai:
fasilitator, pengarah, pemberi umpan balik, dan pembangun pengalaman belajar.
T. Contoh Penerapan Belajar dalam Kehidupan Nyata
Misalnya seorang mahasiswa belum mampu berbicara di depan kelas.
Kondisi awal:
- takut salah;
- suara pelan;
- menghindari kontak mata.
Proses:
Mahasiswa:
- mengamati contoh presentasi;
- mempelajari teknik komunikasi;
- berlatih dalam kelompok kecil;
- melakukan presentasi;
- mendapatkan feedback;
- memperbaiki cara berbicara;
- mencoba kembali.
Kondisi setelah proses:
- lebih percaya diri;
- lebih mampu menyusun gagasan;
- suara lebih jelas;
- lebih mampu berinteraksi dengan audiens.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya proses belajar.
U. Peran Guru/Dosen dalam Proses Belajar
Guru atau dosen bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Peran pendidik dapat mencakup:
1. Perancang pengalaman belajar
Menciptakan aktivitas yang membuat mahasiswa benar-benar berpikir dan mengalami.
2. Fasilitator
Membantu mahasiswa menemukan dan membangun pemahaman.
3. Motivator
Membangun dorongan untuk belajar.
4. Model
Menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat diteladani.
5. Pemberi umpan balik
Membantu mahasiswa mengetahui kekuatan dan hal yang perlu diperbaiki.
6. Evaluator
Menilai perkembangan belajar mahasiswa.
Dengan demikian, pendidik tidak hanya bertugas:
"menyampaikan materi."
Tetapi lebih jauh:
"menciptakan kondisi agar peserta didik mengalami proses belajar."
V. Prinsip-Prinsip Belajar yang Penting
Beberapa prinsip yang perlu dipahami calon pendidik adalah:
1. Setiap individu memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda.
Tidak semua anak atau mahasiswa berkembang dengan ritme yang sama.
2. Pengalaman memengaruhi belajar.
Semakin relevan pengalaman dengan materi, semakin mudah konsep dipahami.
3. Motivasi memengaruhi keterlibatan.
Orang yang memiliki alasan kuat untuk belajar cenderung lebih terlibat.
4. Belajar membutuhkan latihan.
Kemampuan tidak selalu terbentuk dalam satu kali percobaan.
5. Umpan balik membantu perbaikan.
Individu perlu mengetahui apa yang sudah benar dan apa yang perlu diperbaiki.
6. Lingkungan memengaruhi belajar.
Suasana belajar yang aman dan mendukung dapat meningkatkan keterlibatan.
7. Kesalahan dapat menjadi bagian dari belajar.
Yang penting adalah bagaimana individu belajar dari kesalahan tersebut.
W. Belajar dalam Perspektif Psikologi Pendidikan
Dalam psikologi pendidikan, belajar tidak dipandang hanya sebagai proses akademik.
Belajar berkaitan dengan perkembangan manusia secara keseluruhan.
Seorang anak tidak hanya belajar:
membaca, menulis, dan berhitung.
Ia juga belajar:
- mengendalikan emosi;
- bekerja sama;
- menunggu;
- berkomunikasi;
- mengambil keputusan;
- menyelesaikan masalah;
- memahami aturan;
- bertanggung jawab.
Demikian pula mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya belajar:
teori psikologi pendidikan.
Mereka juga belajar:
- berpikir kritis;
- berkomunikasi;
- bekerja sama;
- mengelola waktu;
- menerima kritik;
- bertanggung jawab;
- menyelesaikan masalah.
X. Refleksi untuk Mahasiswa
Setelah mempelajari materi ini, coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Apa sebenarnya arti belajar bagi saya?
- Apakah selama ini saya lebih banyak menghafal atau benar-benar memahami?
- Bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara saya belajar?
- Apa yang membuat saya mudah atau sulit belajar?
- Bagaimana emosi memengaruhi proses belajar saya?
- Apakah kesalahan selama belajar saya anggap sebagai kegagalan atau kesempatan memperbaiki diri?
- Jika kelak menjadi guru, pengalaman belajar seperti apa yang ingin saya berikan kepada peserta didik?
Y. Kesimpulan
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi melalui pengalaman, latihan, interaksi, dan aktivitas mental sehingga individu mengalami perkembangan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun perilaku.
Belajar bukan sekadar:
mendengar → mencatat → menghafal → ujian.
Belajar yang sesungguhnya dapat digambarkan sebagai:
mengalami → memperhatikan → memahami → mencoba → melakukan kesalahan → mendapatkan umpan balik → memperbaiki → menjadi mampu.
Oleh karena itu, tugas seorang pendidik bukan hanya mengajarkan sesuatu, tetapi menciptakan pengalaman yang memungkinkan peserta didik benar-benar belajar.
Kalimat penting yang perlu dibawa mahasiswa dari materi ini adalah:
"Belajar bukan tentang seberapa banyak informasi yang dapat kita hafal, tetapi tentang perubahan apa yang terjadi pada diri kita setelah mengalami proses belajar."
Dan bagi calon pendidik:
"Guru yang baik bukan hanya yang pandai menjelaskan, tetapi yang mampu menciptakan pengalaman sehingga peserta didiknya menemukan, memahami, mencoba, dan akhirnya mampu."





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung.