A. Pendahuluan
Keberagamaan seseorang tidaklah statis. Ia berkembang seiring dengan pertumbuhan usia, pengalaman hidup, serta perubahan fisik dan psikis yang dialami. Pada masa dewasa dan lanjut usia, cara seseorang memahami, menghayati, dan mengamalkan agama cenderung berbeda dibandingkan masa anak-anak atau remaja. Bab ini akan mengupas tuntas bagaimana dinamika keberagamaan pada dua fase penting dalam kehidupan manusia: masa dewasa (awal, madya) dan masa lanjut usia.
B. Tahapan Perkembangan Kejiwaan pada Masa Dewasa
Menurut Elizabeth B. Hurlock, masa dewasa dibagi menjadi tiga bagian:
| Fase | Usia | Karakteristik Umum |
|---|---|---|
| Dewasa Awal (Dini) | 21–40 tahun | Mencari jati diri, karier, pasangan hidup, dan mulai membangun rumah tangga. Masih penuh idealisme dan semangat. |
| Dewasa Madya | 40–60 tahun | Mulai stabil dalam pekerjaan dan kehidupan sosial. Sering disebut "usia setengah baya". Mulai merasakan perubahan fisik dan psikis. |
| Usia Lanjut | > 60 tahun | Fisik menurun, aktivitas berkurang, mulai pensiun, dan lebih banyak merenung. Minat terhadap hal-hal spiritual meningkat. |
1. Dewasa Awal (21–40 tahun)
Pada fase ini, individu berada pada puncak energi fisik dan mental. Secara kejiwaan, mereka mengalami krisis identitas lanjutan dari masa remaja, tetapi lebih terarah pada pencapaian nyata seperti pekerjaan, pernikahan, dan kemandirian ekonomi. Idealisme masih kuat, namun sering kali mulai bergesekan dengan realitas hidup. Tekanan psikologis seperti kecemasan akan masa depan, ketakutan akan kegagalan dalam hubungan atau karier, serta keinginan untuk diterima secara sosial sangat dominan. Hurlock menyebut masa ini sebagai masa penyesuaian diri terhadap pola hidup baru, baik sebagai pekerja, pasangan, maupun orang tua.
2. Dewasa Madya (40–60 tahun)
Fase ini ditandai dengan stabilitas emosi dan sosial, tetapi juga awal dari krisis paruh baya (midlife crisis). Secara kejiwaan, individu mulai mengevaluasi kembali pencapaian hidup: apakah sudah cukup? Apakah ada hal yang disesalkan? Perubahan fisik seperti menurunnya stamina, munculnya uban, atau menopause dapat memicu kecemasan akan penuaan. Namun di sisi lain, kematangan emosi membuat mereka lebih bijaksana, toleran, dan mampu mengelola stres. Minat bergeser dari ambisi pribadi menuh kebersamaan keluarga, membimbing generasi muda, dan mempersiapkan masa tua.
3. Usia Lanjut (> 60 tahun)
Perkembangan kejiwaan pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri terhadap proses penuaan. Hurlock menekankan bahwa fase ini bukan hanya kemunduran, tetapi juga masa refleksi dan integritas diri. Individu cenderung lebih spiritual, merenungkan makna hidup, dan mencari kedamaian batin. Tantangan psikis utama adalah rasa kesepian, kehilangan pasangan atau teman, serta perasaan tidak berguna pasca-pensiun. Namun, mereka yang berhasil melewati fase ini dengan dukungan sosial dan kesehatan mental yang baik akan menunjukkan kebijaksanaan (wisdom) dan ketenangan batin yang mendalam.
C. Ciri-Ciri Kesadaran dan Sikap Beragama pada Masa Dewasa
Pada masa dewasa, kesadaran beragama tidak lagi bersifat ikut-ikutan atau emosional seperti remaja. Berikut ciri-ciri utamanya:
1. Menerima ajaran agama dengan pertimbangan matang
Tidak mudah terpengaruh atau sekadar mengikuti tradisi.
Keputusan beragama didasarkan pada pemikiran logis, pengalaman hidup, dan kesadaran pribadi.
Contoh: Seseorang memilih untuk rajin shalat karena benar-benar merasakan ketenangan batin, bukan karena takut dimarahi orang tua.
2. Bersifat realistis dalam mengamalkan agama
Ajaran agama tidak hanya dipahami secara teori, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh: Tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga berusaha membantu sesama secara nyata.
3. Sikap positif terhadap ajaran agama
Mau belajar lebih dalam, mengikuti kajian, membaca kitab suci, atau bertanya kepada tokoh agama.
Tidak merasa cukup dengan pengetahuan agama yang didapat saat kecil.
4. Ketaatan berdasarkan tanggung jawab diri
Ibadah dilakukan karena kesadaran akan kewajiban kepada Tuhan, bukan karena tekanan sosial.
Contoh: Puasa sunnah dilakukan karena ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan karena ikut-ikutan tetangga.
5. Lebih terbuka dan berwawasan luas
Mampu menerima perbedaan pendapat dalam masalah agama (misalnya: perbedaan madzhab atau tafsir).
Tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda keyakinan atau cara ibadah.
6. Lebih kritis terhadap materi ajaran agama
Tidak menerima begitu saja semua ajaran tanpa berpikir.
Berusaha memahami konteks, tujuan, dan hikmah di balik suatu ajaran.
Contoh: Memahami mengapa Islam melarang riba, bukan hanya karena "haram", tetapi karena dampak sosial ekonominya.
7. Sikap keberagamaan sesuai dengan tipe kepribadian
Ada yang cenderung lebih spiritual dan kontemplatif (suka menyendiri untuk beribadah), ada juga yang lebih sosial (aktif di pengajian atau kegiatan keagamaan bersama).
8. Ada hubungan erat antara sikap beragama dan kehidupan sosial
Agama menjadi landasan dalam bersikap terhadap keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja.
Contoh: Seseorang yang taat beragama cenderung lebih jujur, sabar, dan suka menolong.
D. Persoalan yang Dihadapi pada Masa Usia Lanjut
Memasuki usia lanjut (biasanya mulai 65 tahun ke atas), seseorang menghadapi berbagai perubahan yang tidak mudah:
| Persoalan | Penjelasan |
|---|---|
| Penurunan fisik | Kekuatan berkurang, mudah lelah, sering sakit, penglihatan dan pendengaran menurun. |
| Aktivitas menurun | Tidak bisa bekerja atau berkegiatan seperti dulu. Pensiun membuat kehilangan rutinitas. |
| Kesepian | Anak-anak sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Pasangan hidup mungkin sudah meninggal. |
| Rasa takut mati | Menyadari usia tidak panjang lagi. Pertanyaan tentang kematian dan akhirat semakin terasa. |
| Kehilangan peran sosial | Tidak lagi menjadi pencari nafkah utama atau pemimpin dalam keluarga/masyarakat. |
Namun, dari sisi spiritual, justru pada masa inilah sering terjadi peningkatan kualitas keberagamaan.
E. Ciri-Ciri Keberagamaan pada Masa Usia Lanjut
Menariknya, meskipun fisik menurun, justru kehidupan keagamaan sering kali semakin matang dan mendalam. Berikut ciri-cirinya:
1. Sudah mencapai tingkat kematapan beragama
Tidak goyah lagi oleh keraguan atau pengaruh luar.
Keyakinan sudah teruji oleh berbagai pengalaman hidup.
2. Lebih mudah menerima pendapat keagamaan
Tidak banyak berdebat atau mencari-cari kelemahan ajaran.
Lebih fokus pada esensi dan praktik ibadah.
3. Meyakini kehidupan akhirat dengan lebih sungguh-sungguh
Kesadaran akan dekatnya kematian membuat mereka serius mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Contoh: Rajin bersedekah, memperbanyak istigfar, dan wasiat untuk kebaikan.
4. Sikap keagamaan lebih mengarah pada cinta kasih dan sifat luhur
Lebih pemaaf, penyayang, dermawan, dan sabar.
Agama tidak lagi dilihat sebagai kewajiban yang berat, tetapi sebagai jalan menuju kedamaian.
5. Rasa takut mati meningkat
Ini wajar karena kematian semakin dekat.
Namun, rasa takut ini tidak selalu negatif; bisa menjadi pendorong untuk lebih taat dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
6. Meningkatnya kepercayaan terhadap kehidupan abadi
Keyakinan bahwa setelah kematian ada kehidupan yang kekal (surga/neraka) semakin kuat.
Hal ini memberi penghiburan dan makna di masa tua.
F. Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan
FAKTOR INTERNAL (Dari Dalam Diri)
| Faktor | Penjelasan Singkat | Contoh |
|---|---|---|
| Konflik Moral | Rasa bersalah atau berdosa karena berbuat salah | Seseorang yang pernah berbohong merasa gelisah, lalu bertobat dan rajin shalat |
| Faktor Intelektual | Akal dan logika digunakan untuk memahami agama | Setelah mempelajari sains, seseorang semakin yakin akan kebesaran Tuhan karena keteraturan alam |
| Faktor Afektif | Perasaan/emosi yang mendalam saat beribadah | Merasa haru, tenang, atau menangis saat membaca Al-Qur'an atau berdoa |
| Kebutuhan Psikologis | Butuh rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan makna hidup | Orang yang kesepian merasa dihibur dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan |
| Temperamen | Sifat dasar kepribadian seseorang | Orang yang perenung (melankolis) cenderung lebih mendalam dalam beribadah dibanding yang periang |
FAKTOR EKSTERNAL (Dari Luar Diri)
| Faktor | Penjelasan Singkat | Contoh |
|---|---|---|
| Faktor Sosial | Pengaruh keluarga, teman, dan masyarakat | Anak rajin shalat karena melihat orang tuanya juga rajin shalat |
| Faktor Alami | Melihat keindahan dan keteraturan alam | Melihat gunung dan laut membuat seseorang bertasbih dan kagum pada Tuhan |
| Pendidikan & Tradisi | Ajaran agama dan kebiasaan turun-temurun | Seseorang berpuasa karena sejak kecil dibiasakan oleh orang tua |
| Tokoh Agama | Pengaruh dari ustadz, pendeta, atau panutan | Seseorang menjadi lebih rajin mengaji setelah mendengar ceramah ustadz favoritnya |
| Musibah/Peristiwa | Kejadian tragis atau menyenangkan yang mengubah sikap | Selamat dari kecelakaan membuat seseorang lebih rajin berdoa dan bersyukur |
G. Contoh Kasus Sederhana untuk Memahami
Contoh 1: Pak Ahmad (usia 55 tahun)
Dulu saat muda, ia jarang shalat dan lebih fokus pada karier.
Memasuki usia 50-an, ia mulai rajin ke masjid, mengikuti pengajian, dan menjadi lebih sabar menghadapi masalah.
Ia mengatakan: "Sekarang saya sadar, harta dan jabatan tidak akan menolong saya di akhirat. Hanya amal dan ketakwaan yang tersisa."
Contoh 2: Bu Siti (usia 70 tahun)
Anak-anaknya sudah bekerja di kota lain. Ia tinggal sendiri.
Setiap hari ia membaca Al-Qur'an, berzikir, dan rutin bersedekah meskipun hanya sedikit.
Ia tidak takut mati, justru ia merasa "siap kapan saja dipanggil Allah".
H. Kesimpulan
Masa dewasa adalah masa di mana keberagamaan menjadi lebih matang, rasional, dan aplikatif.
Masa lanjut usia justru sering menjadi puncak kualitas spiritual, meskipun fisik menurun.
Rasa takut mati yang muncul di usia tua tidak perlu ditakuti, karena bisa menjadi pemicu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Keberagamaan pada kedua masa ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kesehatan, dukungan sosial, dan kesadaran akan kematian.
H. Refleksi Diri
Coba renungkan:
Apakah saya sudah mulai bersikap lebih dewasa dalam beragama?
Apakah saya sudah mempersiapkan diri untuk masa tua, baik secara fisik maupun spiritual?
Apakah rasa takut mati membuat saya lebih baik atau justru membuat saya cemas berlebihan?
Dengan memahami bab ini, kita diharapkan tidak hanya menjadi orang yang lebih tua secara usia, tetapi juga lebih matang secara spiritual.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung.