B. BAGAIMANA ANAK MENGENAL TUHAN?
Awal Pengenalan Tuhan
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dan kata-kata dari orang-orang di sekitarnya. Pada awalnya, anak menerima kata-kata tentang Tuhan secara biasa saja, tanpa perhatian khusus.
Mengapa anak awalnya tidak tertarik pada Tuhan?
Karena pada tahap pertama ini, anak belum memiliki pengalaman yang akan membawanya kepada Tuhan — baik pengalaman menyenangkan maupun menyusahkan. Tuhan bagi anak pada permulaan hanya merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya.
Mulai Tumbuhnya Perhatian pada Tuhan
Setelah anak menyaksikan reaksi orang-orang di sekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu — dan hal ini makin lama makin meluas — maka mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh.
Contoh: Anak melihat ibunya berdoa dengan khusyuk, atau mendengar ayahnya menyebut "Tuhan" saat sedang senang atau sedih. Reaksi emosional orang tua ini lama-kelamaan menarik perhatian anak.
Hubungan Anak dengan Orang Tua
Perasaan anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ini merupakan campuran dari bermacam-macam emosi yang kadang saling bertentangan:
Jenis Perasaan | Penjelasan
Cinta | Anak sangat menyayangi orang tuanya
Butuh | Anak bergantung pada orang tua untuk segala hal
Takut | Anak takut kalau orang tua marah
Bangga | Anak bangga memiliki orang tua
Permusuhan | Kadang anak merasa kesal pada orang tua
Menjelang usia 3 tahun, hubungan dengan ibu tidak lagi terbatas pada kebutuhan bantuan fisik, tapi meningkat pada hubungan emosi. Ibu menjadi:
Objek yang dicintai
Sumber kasih sayang yang dibutuhkan
Tempat bergantung secara emosional
Perasaan Anak terhadap Tuhan (Usia di Bawah 7 Tahun)
Menurut Zakiah Daradjat (1976), sebelum usia 7 tahun, perasaan anak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif. Mengapa?
Anak berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan, tapi sulit membayangkannya
Gambaran mereka tentang Tuhan lebih sesuai dengan emosi mereka sendiri
Keingintahuan tentang Tuhan, tempat dan bentuk-Nya bukan didorong oleh rasa ingin tahu murni, tapi lebih oleh perasaan takut dan keinginan untuk dilindungi
C. TINGKATAN KESADARAN DAN SIKAP BERAGAMA PADA ANAK
Sejalan dengan perkembangan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
1. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Usia: 3-6 tahun
Ciri-ciri:
Konsep tentang Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi
Anak menanggapi agama dengan konsep fantastis yang diliputi dongeng
Cerita tentang Nabi dikhayalkan seperti dongeng-dongeng biasa
Perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajaran
Cerita lebih menarik jika berhubungan dengan masa kanak-kanak (sesuai jiwa mereka)
Karakteristik ungkapan anak tentang Tuhan:
Bernada individual (sesuai pengalaman pribadi)
Emosional (dipengaruhi perasaan)
Spontan (apa adanya, tanpa dibuat-buat)
Tapi tetap penuh arti teologis (mengandung makna keagamaan)
Contoh:
Anak bertanya, "Tuhan itu bapaknya siapa? Rumahnya di mana? Apa Tuhan suka main bola?" Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan cara berpikir anak yang masih dongeng dan fantasi.
2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Usia: 7-12 tahun (kira-kira)
Ciri-ciri:
Pemikiran anak tentang Tuhan beralih dari sosok bapak menjadi Tuhan sebagai pencipta
Hubungan dengan Tuhan yang awalnya terbatas pada emosi, berubah menjadi hubungan dengan menggunakan pikiran/logika
Anak mulai bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang khayal
Konsep keagamaan mulai lebih realistis
Contoh:
Anak mulai memahami bahwa Tuhan bukan bapak seperti bapak kandung, tapi pencipta alam semesta. Ia mulai bertanya dengan logika, "Kalau Tuhan menciptakan manusia, siapa yang menciptakan Tuhan?"
3. The Individual Stage (Tingkat Individu)
Usia: Mulai sekitar 12 tahun ke atas (menjelang remaja)
Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi sejalan dengan perkembangan usianya. Konsep keagamaan bersifat individualistik dan terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan | Penjelasan
Konsep ketuhanan konvensional-konservatif | Dipengaruhi sebagian kecil fantasi, cenderung menerima apa yang diajarkan lingkungan
Konsep ketuhanan yang lebih murni | Pandangan bersifat personal (perorangan), mulai membentuk pemahaman sendiri
Konsep ketuhanan humanistik | Agama telah menjadi etos humanis dalam diri; anak menghayati ajaran agama sebagai nilai kemanusiaan
D. PEMBAGIAN LAIN: FASE PERKEMBANGAN AGAMA PADA ANAK
Para ahli juga membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian:
1. Fase Dalam Kandungan
Karakteristik:
Sangat sulit memahami perkembangan agama pada masa ini, apalagi yang berhubungan dengan psikis-ruhani
Namun perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh ke dalam janin
Terjadi perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhannya (QS. Al-A'raf: 172)
Makna:
Ini menunjukkan bahwa benih keberagamaan sudah ada sejak sebelum manusia lahir ke dunia. Manusia dilahirkan dengan fitrah beragama.
2. Fase Bayi
Karakteristik:
Belum banyak yang bisa diketahui mengenai perkembangan agama pada fase ini
Namun Islam telah memberi isyarat pengenalan ajaran agama sejak dini melalui:
Mengadzani bayi yang baru lahir (di telinga kanan)
Meniqahkan bayi (di telinga kiri)
Hikmah:
Meski bayi belum memahami makna adzan dan iqamah, namun secara spiritual ini adalah pengenalan pertama tentang Allah dan ajaran Islam.
3. Fase Kanak-Kanak (Usia 2-6 Tahun)
Karakteristik:
Masa yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan
Anak mulai bergaul dengan dunia luar
Banyak hal ia saksikan ketika berhubungan dengan orang di sekelilingnya
Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan orang
Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagum pada Tuhan
Catatan Penting:
Anak pada usia ini belum memiliki pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam. Namun di sinilah peran orang tua sangat penting untuk:
Memperkenalkan ajaran agama
Membiasakan anak melakukan tindakan-tindakan agama
Memberi contoh/teladan (meski anak hanya meniru)
4. Fase Anak Sekolah (Usia 6-12 Tahun)
Karakteristik:
Seiring perkembangan aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis
Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitas yang semakin berkembang
Anak mulai bisa berpikir logis tentang ajaran agama
Mulai bisa membedakan mana ajaran agama dan mana kebiasaan keluarga
E. SIFAT KEBERAGAMAAN PADA ANAK
Para ahli mengidentifikasi beberapa sifat khas keberagamaan pada anak:
1. Unreflective (Kurang Mendalam/Tanpa Kritik)
Penjelasan:
Kebenaran agama yang mereka terima tidak begitu mendalam
Anak merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal
Mereka menerima ajaran agama apa adanya tanpa banyak bertanya
Fakta Penelitian:
Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
Implikasi:
Pada usia ini, anak lebih mudah menerima ajaran agama tanpa banyak protes. Ini adalah masa yang baik untuk menanamkan dasar-dasar keimanan.
2. Egosentris
Penjelasan:
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian Piaget tentang bahasa pada anak usia 3-7 tahun.
Karakteristik bicara anak:
Bagi anak-anak, berbicara tidak mempunyai arti seperti orang dewasa
Mereka bicara lebih untuk diri sendiri daripada untuk berkomunikasi dengan orang lain
Perkembangan Doa pada Anak:
Usia | Pemahaman tentang Doa
3-7 tahun | Bicara egosentris, doa masih terpusat pada diri sendiri
7-9 tahun | Doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan/gerak tertentu, tapi sangat konkret dan pribadi
9-12 tahun | Ide tentang doa sebagai komunikasi dengan Tuhan mulai tampak
Setelah 12 tahun | Isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain (bersifat etis)
Contoh:
Anak kecil berdoa, "Ya Allah, minta jajan ya..." atau "Tuhan, tolong aku biar bisa main bola." Doa masih seputar dirinya sendiri.
3. Anthropomorphis
Penjelasan:
Anthropomorphis berarti memahami Tuhan dengan sifat-sifat seperti manusia.
Proses terbentuknya konsep Tuhan pada anak:
Konsep anak mengenai Tuhan berasal dari pengalamannya berhubungan dengan orang lain (terutama orang tua)
Anak menggambarkan Tuhan seperti figur orang tua yang memiliki wajah, tangan, bisa marah, bisa sayang, dsb.
Pertanyaan anak tentang "bagaimana" dan "mengapa" mencerminkan usaha mereka menghubungkan penjelasan religius dengan pengalaman keseharian
Contoh Pertanyaan Anak:
"Tangan Tuhan besar nggak, Bu?"
"Kalau Tuhan marah, mukanya merah nggak?"
"Tuhan tidur di mana?"
Peringatan:
Sifat anthropomorphis ini wajar pada anak, tapi perlu diluruskan secara bertahap seiring perkembangan usianya.
4. Verbalis dan Ritualis
Penjelasan:
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal)
Anak menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan
Mereka mengerjakan amaliah berdasarkan pengalaman sesuai tuntunan yang diajarkan
Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing)
Karakteristik:
Anak lebih tertarik pada aspek lahiriah ibadah daripada maknanya. Misalnya, mereka suka melihat gerakan rukuk dan sujud, suka mendengar suara adzan yang merdu, suka melihat orang mengaji.
Contoh:
Anak suka ikut shalat berjamaah meskipun belum paham arti bacaannya. Yang penting bisa ikut bergerak seperti orang dewasa.
5. Imitatif (Meniru)
Penjelasan:
Tindak keagamaan yang dilakukan anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru
Anak melihat, memperhatikan, lalu meniru apa yang dilakukan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya
Peran Orang Tua:
Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting
Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya bukan berbentuk pengajaran teori, tapi berupa teladan
Anak lebih mudah meniru perbuatan daripada memahami penjelasan
Peringatan:
Apa yang dilakukan orang tua akan lebih membekas daripada apa yang diucapkan. Jika orang tua sholat, anak akan ikut sholat. Jika orang tua malas sholat, anak akan menganggap itu hal biasa.
6. Rasa Heran
Penjelasan:
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak
Anak memiliki kepekaan untuk merasa takjub pada keindahan alam dan ciptaan Tuhan
Perbedaan dengan Orang Dewasa:
Aspek | Anak-anak | Orang Dewasa
Sifat rasa heran | Belum kritis dan kreatif | Sudah kritis dan kreatif
Objek kekaguman | Keindahan lahiriah saja | Bisa sampai pada makna di balik keindahan
Peran Orang Tua dan Guru:
Anak perlu diberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya
Rasa heran anak perlu diarahkan agar berkembang menjadi kekaguman yang mendalam kepada Sang Pencipta
Orang tua dan guru agama mempunyai peranan sangat penting dalam hal ini
Contoh:
Anak melihat bintang di langit dan berkata, "Wah, indah sekali!" Orang tua bisa menambahkan, "Itu ciptaan Allah, Nak. Allah Maha Indah dan Maha Kaya."
F. RANGKUMAN PERKEMBANGAN BERAGAMA ANAK
Usia | Tahap | Karakteristik Beragama
0-2 tahun | Masa vital | Mulai mendengar kata-kata tentang Tuhan dari lingkungan, tapi belum memberi perhatian khusus
2-6 tahun | Masa kanak-kanak (Tingkat dongeng) | Konsep Tuhan dipengaruhi fantasi; sifat egosentris, anthropomorphis, verbalis-ritualis, imitatif, dan rasa heran
6-12 tahun | Masa sekolah (Tingkat realistis) | Mulai menggunakan logika; konsep Tuhan beralih dari sosok bapak ke pencipta; lebih realistis
12 tahun | Menjelang remaja (Tingkat individu) | Kepekaan emosi tinggi; konsep keagamaan individualistik; mulai mempertanyakan dan membentuk pemahaman sendiri
G. IMPLIKASI PENDIDIKAN
Pemahaman tentang perkembangan beragama anak memiliki implikasi penting bagi pendidikan, terutama dalam keluarga dan sekolah:
1. Pentingnya Pendidikan Agama Sejak Dini
Masa kanak-kanak adalah masa yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai agama. Apa yang ditanamkan pada masa ini akan membekas hingga dewasa.
2. Metode yang Tepat untuk Setiap Tahap
Tahap | Metode yang Tepat
Tingkat dongeng (3-6 th) | Cerita, nyanyian, permainan edukatif
Tingkat realistis (6-12 th) | Penjelasan logis, diskusi sederhana, praktik ibadah
Tingkat individu (>12 th) | Dialog, pemberian alasan rasional, pendampingan
3. Keteladanan Lebih Penting daripada Pengajaran
Anak belajar melalui meniru. Orang tua dan guru harus menjadi teladan nyata, bukan hanya pemberi teori.
4. Bertahap dan Konsisten
Ajarkan agama secara bertahap, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak. Dan lakukan secara konsisten.
5. Perhatikan Kesiapan Anak
Jangan memaksakan pemahaman yang melampaui usianya. Biarkan anak berkembang sesuai tahapannya dengan bimbingan yang tepat.
PESAN PENTING
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa anak lahir dengan potensi beragama yang baik. Peran orang tua dan lingkungan sangat menentukan bagaimana potensi itu berkembang — apakah akan tumbuh menjadi pribadi yang beriman atau justru menyimpang.
Oleh karena itu:
Tanamkan nilai-nilai agama sejak dini
Berikan contoh teladan yang baik
Bimbing mereka dengan sabar sesuai tahap perkembangannya
Doakan mereka agar menjadi anak yang shalih/shalihah
Karena masa kanak-kanak adalah fondasi bagi kehidupan beragama di masa dewasa. Jika fondasi ini kuat, bangunan keimanan di atasnya akan kokoh. Jika fondasi lemah, bangunan akan mudah roboh.
"Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, kabulkanlah doaku." (QS. Ibrahim: 40)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung.