{padding: 20px; margin: 10px; background:#ffffff;}

Senin, 02 Maret 2026

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Psikologi Agama

 

A. Pendahuluan

Setiap manusia memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan batin. Kebutuhan batin tidak selalu bisa dipenuhi oleh manusia lain. Karena itu, manusia memerlukan pegangan hidup yang memberi rasa tenang, aman, dan arah dalam menjalani kehidupan. Pegangan hidup itu disebut agama.

Agama hadir karena dalam diri manusia ada kesadaran bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dan Maha Kuasa. Kepada kekuatan itulah manusia merasa perlu berlindung, memohon pertolongan, dan menyerahkan diri.

Keberagamaan seseorang tidak bersifat tetap atau statis. Ia bisa berubah dan berkembang seiring waktu. Perubahan itu bisa terjadi karena perkembangan cara berpikir, pengetahuan yang dimiliki, pengalaman hidup, serta kondisi lingkungan. Orang dewasa, misalnya, biasanya memiliki cara pandang beragama yang berbeda dibandingkan saat masih anak-anak, karena pengalaman dan pemahamannya juga berbeda.

Ketika membahas Psikologi Agama, kita sebenarnya sedang mengkaji dua hal sekaligus, yaitu psikologi dan agama. Psikologi mempelajari perilaku dan kehidupan batin manusia, sedangkan agama berkaitan dengan keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Walaupun keduanya memiliki pengertian dan ruang lingkup yang berbeda, keduanya sama-sama membahas tentang aspek batin manusia.

Oleh karena itu, dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian serta sejarah pertumbuhan dan perkembangan Psikologi Agama sebagai suatu bidang kajian ilmiah.

B. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Psikologi Agama

Menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci maupun sejarah tentang agama-agama, tidak dijelaskan secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, meskipun tidak lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.

Contoh-contoh Awal dalam Sejarah

Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawastu yang rela mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa, menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya berkaitan dengan keyakinan agamanya. Proses perubahan ini dalam psikologi agama disebut dengan konversi agama.

Proses yang hampir serupa juga digambarkan dalam Al-Quran tentang cara Nabi Ibrahim a.s. memimpin umatnya untuk bertauhid kepada Allah.

Informasi mengenai proses dan peristiwa keagamaan juga dapat dijumpai dalam kepercayaan bangsa Jepang terhadap kaisar mereka. Mitos agama Shinto yang menempatkan Kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amiterasu Omi Kami) telah mempengaruhi sikap keberagamaan khas bangsa Jepang. Ketika Jepang ikut dalam Perang Dunia II, banyak prajurit rela mengorbankan nyawa demi kaisar, bahkan melalui tindakan harakiri (bunuh diri).

Terlalu banyak contoh yang dapat dikemukakan tentang hubungan antara kesadaran dan pengalaman agama dengan sikap dan tingkah laku para penganut agama. Namun pada masa lalu, kasus-kasus seperti itu belum dipelajari secara ilmiah dan hanya dianggap sebagai peristiwa keagamaan biasa.

Awal Mula Kajian Ilmiah

Zakiah Daradjat (1970) menyatakan bahwa yang pertama kali berani mengemukakan hasil penelitian secara ilmiah tentang agama adalah Frazer dan Taylor. Mereka meneliti berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk peribadatan Kristen dengan peribadatan orang-orang primitif. Mereka juga menemukan bahwa pikiran-pikiran yang terdapat dalam agama Kristen, juga ada dalam agama-agama primitif, seperti pengorbanan karena dosa warisan, hari kebangkitan, dan sebagainya. Hasil penelitian Frazer dan Taylor ini telah membangkitkan perhatian para ahli untuk memandang agama sebagai suatu aspek kehidupan manusia yang dapat diteliti dan dipelajari.

Menurut sumber Barat, kajian psikologi agama mulai populer sekitar abad ke-19. Pada masa itu, psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk mengkaji agama. Kajian semacam ini membantu pemahaman tentang cara manusia bertingkah laku, berpikir, dan mengungkapkan perasaan keagamaan.

Tokoh-tokoh Perintis Psikologi Agama

Beberapa tokoh yang dianggap berjasa dalam melahirkan psikologi agama sebagai disiplin ilmu adalah:

1. Edwin Diller Starbuck

Ia adalah murid dari William James. Pada tahun 1899, Starbuck menerbitkan buku berjudul "The Psychology of Religion: An Empirical Study of Growth of Religion Consciousness". Buku ini merupakan hasil penelitian tentang pertumbuhan kesadaran beragama. Menariknya, dalam bidang psikologi agama, Starbuck justru melampaui gurunya sendiri. Karya Starbuck ini dianggap sebagai titik awal berkembangnya psikologi agama.

2. William James

Pada tahun 1903, William James membukukan bahan-bahan persiapan kuliahnya tentang agama di Universitas Edinburgh dengan judul "The Varieties of Religious Experience". Buku ini berisi pengalaman keagamaan berbagai tokoh dan dianggap sebagai buku perintis yang menjadikan psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

3. James H. Leuba

Ia juga termasuk tokoh penting dengan hasil penelitiannya yang dimuat dalam jurnal The Monistpada tahun 1901 dengan judul "Introduction to a Psychological Study of Religion". Kemudian pada tahun 1912, ia menerbitkan buku berjudul "A Psychological Study of Religion".

Perkembangan di Dunia Islam

Di dunia Islam, sebenarnya telah muncul tokoh-tokoh yang membahas masalah kejiwaaan jauh sebelum psikologi agama berkembang di Barat. Namun, kajian mereka belum dikemas sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Tokoh dengan Pendekatan Filsafat:

  • Al-Kindi

  • Al-Farabi

  • Ibnu Sina

  • Ibnu Maskawih

  • Al-Razi

  • Ibnu Rusyd

Tokoh-tokoh ini lebih dikenal sebagai filosof daripada psikolog, namun pemikiran mereka banyak berkaitan dengan jiwa (al-nafs atau al-ruh). Ciri utama mereka adalah mengutamakan peran akal (al-'aql) yang puncaknya mampu memperoleh pengetahuan dari Allah melalui 'aql fa'al.

Tokoh dengan Pendekatan Tasawuf:

  • Abu Hamid al-Ghazali

  • Rabi'ah al-Adawiyah

  • Dzun Nun al-Mishry

  • Abu Yazid al-Busthami

  • Al-Hallaj

  • Ibnu 'Arabi

  • Abdul Qadir al-Jailani

Ciri utama kelompok ini adalah mengutamakan peran hati (al-qalb) yang puncaknya mampu mencapai ma'rifah (mengenal Allah), mahabbah (cinta kepada Allah), dan tingkatan spiritual lainnya.

Karya Ilmuwan Muslim Modern:

  • Tatawwur al-Syu'ur al-Diny Inda Tifl wa al-Murahiq (Perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja) oleh Al-Maghary (1955)

  • Al-Nummuwu al-Nafs (Perkembangan Kejiwaan) (1957)

  • Ruh al-Din al-Islamy (Jiwa Agama Islam) oleh Abd al-Fatah (1956)

  • The Dilemma of Muslim Psychology oleh Malik B. Badri (1979)

Perkembangan di Indonesia

Di Indonesia, psikologi agama mulai dikenal sekitar tahun 1970-an. Tokoh pelopornya adalah Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, terutama di lingkungan IAIN (sekarang UIN).

Karya-karya awal yang berkaitan dengan psikologi agama di Indonesia antara lain:

  • Agama dan Kesehatan Badan/Jiwa oleh Prof. dr. H. Aulia (1965)

  • Islam dan Psikosomatik oleh K.H. S.S. Djam'an (1975)

  • Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama oleh Dr. Nico Syukur Dister

Karya Zakiah Daradjat yang terkenal:

  • Ilmu Jiwa Agama (1970)

  • Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1970)

  • Kesehatan Mental

Momentum kebangkitan psikologi Islami di Indonesia terjadi pada tahun 1994 dengan diterbitkannya buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi oleh Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori Suroso.

Mengapa Karya Ilmuwan Muslim Tidak Berkembang Menjadi Disiplin Ilmu Tersendiri?

Ada beberapa alasan mengapa karya ilmuwan muslim di masa lalu tidak berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri seperti yang terjadi di Barat:

a. Kemunduran Negara-negara Islam

Perhatian para ilmuwan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan mulai menurun karena mereka disibukkan dengan masalah politik negara yang tidak stabil.

b. Penyerangan Bangsa Mongol

Penyerangan bangsa Mongol ke pusat peradaban Islam di Baghdad menyebabkan banyak karya ilmuwan muslim yang dibakar. Ketika Islam kalah di Andalusia (Spanyol), kitab-kitab berbahasa Arab banyak yang dialihbahasakan ke bahasa Barat.

c. Sikap Kurang Menghargai dari Ilmuwan Barat

Ilmuwan Barat, terutama setelah masa kemunduran Islam, kurang menghargai karya-karya ilmuwan muslim.

d. Penyebutan yang Berkonotasi Keagamaan

Karya-karya ilmuwan muslim pada zaman klasik umumnya ditulis oleh para ulama yang dikenal dengan sebutan seperti mufassir (ahli tafsir), muhadditsin (ahli hadis), fuqaha (ahli fiqih), atau ahlul hikmat (filosof). Akibatnya, karya-karya mereka seakan-akan hanya dianggap sebagai ilmu agama murni, bukan sebagai ilmu umum.

Manfaat Mempelajari Psikologi Agama

Setelah menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat. Hal ini karena bidang kajiannya menyangkut kehidupan manusia secara pribadi maupun kelompok, serta mencakup permasalahan perkembangan usia manusia. Psikologi agama termasuk ilmu terapan yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Paling tidak ada tiga kepentingan yang dapat dicapai dengan ilmu jiwa agama:

  1. Kepentingan ilmiah (teoritis) – untuk pengembangan ilmu pengetahuan

  2. Kepentingan praktis – yang langsung menyangkut kehidupan sehari-hari

  3. Kepentingan normatif – sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku


C. Sumber Jiwa Keagamaan

Pertanyaan penting dalam psikologi agama adalah: dari mana sebenarnya sumber jiwa keagamaan itu berasal? Mengapa manusia memiliki kecenderungan untuk beragama? Para ahli telah mengidentifikasi beberapa faktor yang menjadi sumber munculnya sifat keagamaan pada diri manusia.

1. Faktor-faktor yang Menghasilkan Sifat Keagamaan

a. Faktor Sosial

Faktor sosial mencakup semua pengaruh dari lingkungan masyarakat dalam perkembangan sikap keagamaan seseorang. Ini meliputi:

  • Pendidikan dari orang tua – Cara orang tua mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya

  • Tradisi-tradisi sosial – Kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat yang bernuansa keagamaan

  • Tekanan lingkungan sosial – Dorongan dari lingkungan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh masyarakat sekitar

Konsep psikologis yang paling erat kaitannya dengan pengaruh sosial ini adalah sugesti. Sugesti adalah proses komunikasi di mana seseorang menerima dan menyadari suatu gagasan tanpa didasari alasan-alasan rasional yang cukup. Misalnya, seorang anak yang sejak kecil diajak orang tuanya ke masjid atau gereja akan menerima kebiasaan itu tanpa banyak bertanya.

b. Faktor Alamiah

Ada anggapan bahwa kehadiran keindahan, keselarasan, dan kebaikan yang kita rasakan di dunia ini secara psikologis turut berperan dalam membentuk sikap keagamaan. Ada tiga unsur yang dapat dibedakan dalam pengalaman alamiah ini:

1) Pengalaman tentang manfaat

Manusia menyadari bahwa benda-benda di alam semesta bermanfaat bagi kehidupannya. Matahari memberi cahaya dan panas, hujan menyuburkan tanaman, udara untuk bernapas. Tidak ada satupun ciptaan di alam ini yang tidak berguna. Semua kejadian mengandung hikmah, dan hal ini mendorong manusia untuk berpikir tentang adanya kekuatan di balik semua itu.

2) Pengalaman tentang keharmonisan

Paley dalam bukunya Natural Theology mengemukakan bahwa berbagai jenis makhluk hidup saling beradaptasi satu sama lain dan dengan lingkungannya. Ada keteraturan dan keseimbangan yang menakjubkan di alam ini. Pengalaman menyaksikan keharmonisan alam membuat orang percaya bahwa ada "perancang" yang Maha Pintar di balik semua ini.

3) Pengalaman tentang keindahan

Dunia ini tampak indah, mengagumkan, dan luar biasa. Pemandangan gunung, hamparan lautan, warna-warni bunga, atau keindahan langit malam berbintang. Banyak orang mengungkapkan bahwa keindahan alam membawa mereka pada perasaan spiritual. Seperti yang diungkapkan oleh Gerald Manley Hopkins: "Dunia ini disiapkan dengan keagungan Tuhan."

Pengalaman tentang keindahan ini kemudian dirumuskan menjadi argumen filosofis yang menyatakan bahwa adanya keindahan menunjukkan adanya Pencipta keindahan itu sendiri.

c. Faktor Konflik Moral

Ini adalah pengalaman yang lebih bersifat internal dalam diri individu, yakni pengalaman tentang pertentangan antara berbagai kecenderungan perilaku dalam dirinya. Manusia sering mengalami konflik antara keinginan berbuat baik dan dorongan berbuat jahat.

Konflik moral dapat dianggap sebagai salah satu faktor yang menentukan sikap keagamaan. Dalam dirinya, manusia merasakan adanya pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Kekuatan baik bisa dianggap sebagai sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan kekuatan jahat berasal dari dorongan yang bertentangan dengan Tuhan.

Pengalaman konflik moral ini dapat membawa seseorang kepada kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha Baik, yang dapat dimintai pertolongan untuk mengatasi kecenderungan jahat dalam dirinya.

d. Faktor Intelektual

Proses berpikir juga merupakan bagian dari landasan sikap keagamaan. Suatu kepercayaan akan lebih kuat dipegang jika ada alasan pemikiran yang mendukungnya. Sebaliknya, kebanyakan orang cenderung meninggalkan kepercayaan yang menurut mereka tidak mendapat dukungan intelektual, meskipun kepercayaan itu menarik dari segi lainnya.

Manusia menggunakan akalnya untuk merenungkan alam semesta, memikirkan asal-usul dan tujuan hidupnya, sampai akhirnya sampai pada kesimpulan tentang adanya Tuhan.

e. Faktor Afektif (Emosional)

Pengalaman emosional juga membantu pembentukan sikap keagamaan. Ini bisa disebut sebagai sisi "emosional" atau "afektif" dalam beragama. Setiap orang memiliki pengalaman batin yang dalam kaitannya dengan agama.

Contohnya adalah pengalaman mistik, di mana seseorang merasakan komunikasi dengan Tuhan. Dalam agama Islam, pengalaman seperti ini biasa terjadi terutama di kalangan sufi. Mereka merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, merasakan kedamaian yang luar biasa saat berdzikir atau berdoa.

f. Faktor Kebutuhan Manusia

Manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan timbul kegelisahan. Secara garis besar, kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi dua:

1) Kebutuhan primer – kebutuhan jasmani/fisik seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.

2) Kebutuhan rohaniah (psikis dan sosial), antara lain:

  • Kebutuhan akan kasih sayang

  • Kebutuhan akan rasa aman

  • Kebutuhan akan harga diri

  • Kebutuhan akan rasa bebas

  • Kebutuhan akan rasa sukses

  • Kebutuhan akan rasa ingin tahu

Tidak selamanya manusia dapat memenuhi semua kebutuhan di atas. Berbagai situasi dan kondisi bisa menghalangi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut. Jika kebutuhan tidak terpenuhi, manusia akan gelisah dan mencari jalan keluar, baik dengan cara yang wajar maupun tidak wajar.

Untuk mengatasi kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan ini, manusia memerlukan kepercayaan kepada Tuhan. Sebab jika unsur Tuhan ditiadakan dalam upaya pemenuhan kebutuhan, maka akan semakin banyak orang yang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tidak benar dan menyimpang dari norma agama.

D. Teori Sumber Jiwa Agama

Para ahli telah mengemukakan berbagai teori tentang sumber jiwa agama. Secara garis besar, teori-teori ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa aliran.

1. Teori Monistik (Mono = Satu)

Teori monistik berpendapat bahwa sumber jiwa keagamaan hanya berasal dari satu sumber tunggal. Berikut adalah beberapa tokoh dan pendapat mereka:

a. Thomas Van Aquino

Menurut Thomas Van Aquino, sumber jiwa keagamaan adalah berpikir (akal). Manusia dapat meyakini bahwa Tuhan itu ada melalui proses berpikir. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusia itu sendiri. Dengan akalnya, manusia merenungkan alam dan sampai pada kesimpulan tentang keberadaan Pencipta.

b. Friedrich Hegel

Filosof Jerman ini memiliki pendapat yang hampir sama dengan Thomas Van Aquino. Menurut Hegel, agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi. Berdasarkan hal itu, agama semata-mata merupakan persoalan yang berhubungan dengan pikiran.

c. Friedrich Schleiermacher

Berbeda dengan kedua ahli di atas, Schleiermacher berpendapat bahwa sumber keagamaan adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend).

Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini, manusia merasakan dirinya lemah. Kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung kepada suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya. Dari rasa ketergantungan inilah timbul konsep tentang Tuhan. Selanjutnya muncul upacara-upacara untuk meminta perlindungan kepada kekuasaan yang diyakini dapat melindungi mereka.

Rasa ketergantungan ini dapat dibuktikan dalam realitas upacara keagamaan dan pengabdian para penganut agama kepada Tuhan.

d. Rudolf Otto

Tokoh ini berpendapat bahwa sumber jiwa keagamaan adalah rasa kagum terhadap sesuatu yang berasal dari yang sama sekali lain (The Wholly Other). Manusia merasa kagum terhadap sesuatu yang misterius, yang berbeda sama sekali dari dirinya. Perasaan kagum inilah yang menjadi sumber jiwa agama pada manusia.

e. Sigmund Freud

Tokoh psikoanalisis ini menyatakan bahwa unsur kejiwaan yang menjadi sumber agama adalah libido seksual (naluri seksual). Menurut Freud, libido ini menimbulkan ide ketuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses Oedipus Complex dan Father Image (citra bapak).

Singkatnya, Freud memandang Tuhan sebagai proyeksi dari figur ayah. Manusia menciptakan Tuhan karena kebutuhan akan perlindungan, sama seperti anak yang membutuhkan ayahnya.

f. William Mac Dougall

Ia berpendapat bahwa sumber kejiwaan merupakan kumpulan dari berbagai insting. Menurut Mac Dougall, pada diri manusia terdapat empat belas macam insting, dan agama timbul dari dorongan berbagai insting yang terintegrasi (bergabung menjadi satu).

2. Teori Fakulti (Faculty Theory)

Berbeda dengan teori monistik, teori fakulti berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak bersumber pada satu faktor tunggal, tetapi terdiri atas beberapa unsur. Unsur-unsur yang dianggap memegang peranan penting adalah:

a. Cipta (Reason)

Cipta merupakan fungsi intelektual jiwa manusia yang tercermin dalam ilmu kalam (teologi). Melalui cipta, orang dapat menilai, membandingkan, dan memutuskan suatu tindakan terhadap rangsangan tertentu. Akal manusia berperan dalam mempertimbangkan ajaran agama, mana yang masuk akal dan mana yang harus diterima sebagai keimanan.

b. Rasa (Emotion)

Rasa adalah suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dan corak tingkah laku seseorang. Namun demikian, jika rasa (emosi) digunakan secara berlebihan, hal ini justru akan menyebabkan ajaran agama menjadi dingin. Diperlukan keseimbangan antara rasa dan akal dalam beragama.

c. Karsa (Will)

Karsa merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Karsa berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan ajaran agama. Tanpa adanya karsa (kemauan), maka ajaran agama yang sudah dipahami oleh akal dan dirasakan oleh hati belum tentu akan diwujudkan dalam tindakan nyata. Sama seperti fungsi cipta dan rasa, fungsi karsa pun tidak boleh berlebihan.

3. Tokoh-tokoh Pendukung Teori Fakulti

a. G.M. Straton

Straton mengemukakan teori konflik. Menurutnya, yang menjadi sumber jiwa keagamaan adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Keadaan yang berlawanan seperti baik-buruk, moral-immoral, pasif-aktif, dan rasa rendah diri dengan rasa harga diri menimbulkan pertentangan (konflik) dalam diri manusia.

Adanya dikotomi (serba dua) inilah yang menimbulkan rasa agama dalam diri manusia. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, dan dalam situasi konflik itulah ia mencari kekuatan di luar dirinya, yaitu Tuhan.

Sigmund Freud juga berbicara tentang konflik, yaitu antara life-urge (keinginan untuk mempertahankan hidup) dan death-urge (keinginan untuk kembali kepada keadaan mati).

b. Zakiah Daradjat

Menurut Zakiah Daradjat, pada diri manusia terdapat kebutuhan pokok yang menjadi sumber jiwa keagamaan. Unsur-unsur kebutuhan tersebut adalah:

  • Kebutuhan akan rasa kasih sayang

  • Kebutuhan akan rasa aman

  • Kebutuhan akan rasa bebas

  • Kebutuhan akan rasa sukses

  • Kebutuhan akan rasa ingin tahu

Ketika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, manusia akan gelisah dan mencari jalan keluar. Agama hadir sebagai jawaban atas kegelisahan ini, memberikan rasa aman, kasih sayang dari Tuhan, dan kepuasan batin.

c. W.H. Thomas

Melalui teori "The Four Wishes" (Empat Keinginan), Thomas mengemukakan bahwa sumber jiwa keagamaan adalah empat macam keinginan dasar yang terdapat dalam jiwa manusia:

1) Keinginan untuk perlindungan/keselamatan (security)
Manusia ingin merasa aman dan selamat dalam hidupnya. Agama menawarkan perlindungan dari kekuatan gaib dan kehidupan setelah mati yang aman.

2) Keinginan untuk mendapatkan tanggapan (response)
Manusia ingin mendapatkan perhatian dan tanggapan dari orang lain. Dalam beragama, ia merasa didengar dan diperhatikan oleh Tuhan ketika berdoa.

3) Keinginan untuk mendapat pengakuan/penghargaan (recognition)
Manusia ingin diakui keberadaannya dan dihargai. Dalam konteks agama, ia berharap mendapatkan pengakuan sebagai hamba yang saleh.

4) Keinginan akan pengetahuan dan pengalaman baru (new experience)
Manusia selalu ingin tahu dan mencari pengalaman baru. Agama menawarkan pengalaman spiritual yang baru dan mendalam, serta pengetahuan tentang hal-hal gaib.

Berdasarkan keempat keinginan dasar inilah, menurut W.H. Thomas, pada umumnya manusia menganut agama.

4. Teori Fitrah

Selain teori monistik dan fakulti, ada juga teori fitrah yang berasal dari ajaran Islam. Kata fitrahberasal dari bahasa Arab yang berarti memegang dengan erat, memecahkan, atau menciptakan.

Hasan Langgulung menjelaskan bahwa salah satu ciri fitrah adalah manusia menerima Allah sebagai Tuhan. Dengan kata lain, manusia sejak asalnya memang mempunyai kecenderungan beragama, karena beragama merupakan bagian dari fitrahnya.

Fitrah berarti mengakui keesaan Allah. Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, atau paling tidak kecenderungan untuk mengesakan Tuhan. Sepanjang hidupnya, manusia akan berusaha secara terus menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.

Pandangan ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa potensi beragama (bertauhid) sudah ada sejak lahir. Lingkungan dan pendidikan orang tualah yang akan mengarahkan potensi tersebut, apakah ia akan tumbuh menjadi pemeluk agama yang benar atau justru menyimpang.

E. Simpulan

Psikologi agama penting dipelajari karena membantu kita memahami kondisi kejiwaan seseorang dari sisi keyakinan agamanya.

Para ahli telah banyak memberikan definisi, tetapi sulit merumuskan satu definisi yang pasti. Hal ini karena psikologi agama harus mencakup dua bidang berbeda: psikologi dan agama. Ilmu ini berbeda dari cabang psikologi lain karena harus tunduk pada ajaran agama sekaligus kaidah ilmu jiwa.

Ada dua teori utama tentang sumber jiwa agama:

  1. Teori Monistik – bersumber dari satu faktor (akal, rasa, atau insting)

  2. Teori Fakulti – bersumber dari beberapa unsur (akal, perasaan, dan kemauan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung.