{padding: 20px; margin: 10px; background:#ffffff;}

Kamis, 12 Maret 2026

BAB II KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK DI JENJANG SD/MI



 A. Pengertian Anak dan Fase-fase Kepribadian Anak 

Seseorang disebut anak-anak ketika ia lahir dari perut ibunya hingga ia mengalami mimpi basah (sebagai pertanda baligh). Menurut arti terminologi, anak-anak berarti fase pertumbuhan yang dimulai dari lahir dan berakhir sampai baligh (Azhari, 2013). Permulaan fase ini diawali dengan bayi dengan merujuk firman Allah SWT: “Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi” (QS. Al- Hajj: 5). Adapun masa akhir ditandai dengan masa baligh dengan merujuk pada firman Allah SWT: “Dan apabila anak-anakmu sudah sampai pada umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin” (QS. An Nur: 31). Sementara pembatasan usia anak-anak menurut para ulama berhenti pada usia dua belas tahun, sehingga disebut anak-anak adalah yang belum mengalami mimpi basah (Lahij, 2005).

Masa pendidikan anak-anak hingga usia muda melewati tahapan-tahapan yang bermacam-macam. Masa kecil dan masa muda memiliki karakter-karakter yang berubah-ubah, dan sampai akhir kehidupan terdapat kondisi-kondisi yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda, “Anak anda tuan

Strategi Pembelajaran di SD/MI 21

dalam tujuh tahun (pertama), budak dalam tujuh tahun (kedua), dan materi dalam tujuh tahun (ketiga).”

Masa anak-anak, belia dan muda terbagi dalam tiga ‘tujuh tahun’. Ke-tuan-an anak bukan berarti anak menjadi seorang ayah atau kepala keluarga, tetapi ia tak terbebani taklif (kewajiban) dan dosa tidak berlaku baginya. Ia bebas melakukan apa saja, tidak dipukul dan tidak dicela. Pada usia awal ini (hingga tujuh tahun), anak diperlakukan dengan baik, tidak dihukum.

Ketika dikatakan anak adalah budak, bukanlah bermakna mukallaf (diwajibkan) beribadah dan taat kepada Allah, tetapi bermakna taat kepada orang tua, kepada ibu dan ayah. Di mana pada tujuh tahun kedua (hingga usia empat belas tahun) telah sampai pada usia tamyiz (mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk), dan dapat menaati perintah dengan benar dan tulus. Pada tujuh tahun ketiga anak adalah materi, maksudnya ia mampu menentukan. Di samping mampu melakukan setiap perbuatan dan perintah dengan baik dan benar, ia juga mampu berperan sebagai musyawir dan konsultan bagi orang tua (Lahij, 2005).

Mahmud Yunus dalam bukunya ”At-Tarbiyah wa At- Ta’lim” membagi fase anak-anak menjadi empat fase dan setiap fase punya karakter tersendiri (Safiq et al., 2019), yaitu:

1. Awal tiga tahun pertama;
2. Tahun keempat sampai tahun keenam;
3. Tahun keenam sampai tahun kedelapan;
4. Tahun kedelapan sampai tahun kedua belas.

Sedangkan para psikolog membagi tahap perkembangan anak menjadi beberapa fase (Suyahman, 2021):

  1. Fase menyusu, dimulai sejak lahir sampai usia dua tahun. Sebagian psikolog ada yang membagi fase ini menjadi dua bagian. Pertama, fase bayi yang baru berusia dua minggu pertama setelah kelahiran. Kedua, fase menyusu yang dimulai sejak dua minggu pertamasampai usia dua tahun.

  2. Fase anak-anak awal, dimulai sejak usia dua tahun sampai enam tahun.

  3. Fase anak-anak menengah, dimulai sejak usia enam tahun sampai sembilan tahun.

  4. Fase anak-anak terakhir, dimulai sejak usia sembilan tahun sampai dua belas tahun.

Setiap fase perkembangan ini memiliki ciri dan kebutuhan yang berbeda, sehingga orang tua dan pendidik perlu memahami tahap perkembangan anak agar dapat memberikan pendidikan yang tepat.

B. Karakteristik dan Kebutuhan Anak Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah

Setiap anak memiliki ciri atau karakter yang berbeda-beda. Ada karakter yang sudah dibawa sejak lahir (faktor bawaan), dan ada juga yang terbentuk karena pengaruh lingkungan, seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Karakter bawaan biasanya berkaitan dengan faktor biologis, misalnya bentuk tubuh atau kesehatan. Sedangkan karakter yang berhubungan dengan sikap, perilaku, dan emosi lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Bagi seorang guru, memahami karakteristik siswa sangat penting, terutama di tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI). Dengan memahami karakter anak, guru dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

Karakteristik Anak Usia SD/MI

  1. Senang bermain
    Anak usia SD/MI sangat suka bermain. Oleh karena itu, pembelajaran sebaiknya disertai dengan unsur permainan agar anak lebih tertarik dan tidak mudah bosan. Guru dapat membuat pembelajaran yang serius tetapi tetap santai dan menyenangkan. Misalnya dengan menyelingi pelajaran yang berat seperti matematika dengan kegiatan yang lebih santai seperti olahraga atau seni.

  2. Senang bergerak
    Anak SD/MI tidak bisa duduk diam terlalu lama. Umumnya mereka hanya bisa duduk tenang sekitar 30 menit saja. Karena itu, guru perlu membuat kegiatan belajar yang memungkinkan anak bergerak atau berpindah tempat, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, atau kegiatan praktik.

  3. Senang bekerja dalam kelompok
    Anak-anak juga senang berinteraksi dengan teman sebayanya. Melalui kerja kelompok, mereka belajar banyak hal seperti:

  • mengikuti aturan

  • bekerja sama

  • bertanggung jawab

  • bersaing secara sehat

  • menghargai pendapat orang lain

Oleh karena itu, guru sebaiknya memberikan tugas yang dapat dikerjakan secara kelompok kecil, misalnya kelompok berisi 3–4 siswa.

  1. Senang belajar secara langsung (praktik)
    Anak usia SD/MI lebih mudah memahami pelajaran jika mereka melihat atau melakukan langsung. Pada usia ini anak berada pada tahap berpikir konkret, artinya mereka lebih mudah memahami sesuatu yang nyata. Oleh karena itu, pembelajaran sebaiknya melibatkan contoh nyata, praktik, atau kegiatan langsung.


Kebutuhan Anak Usia SD/MI

Selain memahami karakter anak, guru juga perlu memperhatikan kebutuhan perkembangan anak. Kebutuhan ini berkaitan dengan tugas perkembangan yang harus dicapai anak pada usia tertentu.

Jika anak berhasil menjalani tugas perkembangannya dengan baik, maka ia akan merasa senang dan percaya diri. Namun jika gagal, anak bisa merasa tidak bahagia dan kesulitan pada tahap perkembangan berikutnya.

Beberapa tugas perkembangan anak antara lain:

  • belajar berjalan dan bergerak

  • belajar melempar atau menangkap bola

  • belajar membaca, menulis, dan berhitung

  • belajar bergaul dengan orang lain

  • belajar bertanggung jawab

Pada usia SD/MI, anak juga mulai menunjukkan beberapa dorongan penting, yaitu:

  1. Keinginan untuk bergaul dengan teman sebaya.

  2. Keinginan untuk bermain dan melakukan aktivitas fisik.

  3. Keinginan untuk belajar berpikir, memahami konsep, dan berkomunikasi seperti orang dewasa.


C. Perkembangan Anak Usia SD/MI dan Kebutuhan Dasar Anak Usia SD/MI


Perkembangan anak pada masa ini dapat dilihat dari beberapa aspek.

1. Perkembangan Fisik

Pertumbuhan fisik setiap anak berbeda-beda walaupun usianya sama. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

  • gizi dan kesehatan

  • lingkungan

  • kebiasaan hidup

  • perhatian orang tua

Anak yang mendapatkan makanan bergizi, olahraga yang cukup, dan lingkungan yang baik biasanya memiliki pertumbuhan yang lebih sehat.

2. Perkembangan Intelektual dan Emosional

Perkembangan kecerdasan anak dipengaruhi oleh:

  • kesehatan

  • pergaulan

  • pendidikan dari orang tua dan guru

Sedangkan perkembangan emosi anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, teman, dan pengalaman hidup. Perlakuan orang tua yang terlalu keras atau terlalu memanjakan juga dapat mempengaruhi keseimbangan emosi anak.

3. Perkembangan Bahasa

Kemampuan bahasa anak mulai berkembang sejak bayi. Dengan bimbingan orang tua dan guru, anak akan belajar berbicara dan berkomunikasi dengan lebih baik.

Berbicara memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  • untuk menyampaikan kebutuhan

  • untuk bergaul dengan orang lain

  • untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain

Perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kematangan alat bicara, latihan, motivasi, dan bimbingan dari orang tua.

4. Perkembangan Moral, Sosial, dan Sikap

Anak perlu belajar bagaimana berperilaku baik dalam masyarakat. Orang tua dan guru harus menjadi teladan yang baik bagi anak.

Anak juga perlu diberikan penghargaan (reward) ketika melakukan hal yang baik agar mereka termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut. Selain itu, hukuman juga boleh diberikan jika anak melakukan kesalahan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang mendidik dan tidak menyakiti anak.


Kebutuhan Dasar Anak Usia SD/MI

Menurut Lindgren, ada empat kebutuhan dasar anak usia SD/MI.

1. Kebutuhan Fisik

Anak membutuhkan makanan bergizi, kesehatan yang baik, serta lingkungan yang aman agar dapat tumbuh dengan optimal.

2. Kebutuhan Kasih Sayang

Anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, guru, dan teman-temannya. Anak juga mulai senang memiliki teman dekat dan hobi tertentu.

3. Kebutuhan Memiliki dan Dimiliki

Anak ingin memiliki teman, kelompok bermain, atau benda kesayangannya. Mereka juga ingin merasa diter

C. Gangguan Belajar (Learning Disorders) pada Anak

Gangguan belajar adalah kondisi ketika seorang anak mengalami kesulitan dalam proses belajar, sehingga kemampuan akademiknya tidak sesuai dengan kemampuan intelektual atau usianya.

Artinya, anak sebenarnya memiliki tingkat kecerdasan yang normal, tetapi prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan anak lain yang seusia.

Pada usia Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), proses belajar sangat penting karena menjadi dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Namun, dalam proses tersebut terkadang muncul berbagai masalah atau gangguan belajar.

Gangguan belajar pada anak bisa terjadi karena beberapa hal. Kadang gangguan ini menjadi bagian dari masalah lain seperti:

  • keterbelakangan mental,

  • gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD),

  • autisme,

  • atau gangguan kecemasan pada anak.

Namun, gangguan belajar juga bisa terjadi secara khusus dan berdiri sendiri, seperti kesulitan membaca, menulis, atau berhitung.

Secara umum, gangguan belajar pada anak dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:


1. Gangguan Membaca (Dyslexia)

Dyslexia adalah gangguan yang menyebabkan anak kesulitan membaca dan memahami bacaan.

Anak dengan dyslexia biasanya mengalami kesulitan dalam:

  • mengenali huruf,

  • membaca kata dengan benar,

  • memahami isi bacaan.

Kesulitan ini tidak disebabkan oleh rendahnya kecerdasan, kurangnya motivasi belajar, atau masalah penglihatan dan pendengaran. Anak dengan dyslexia tetap memiliki kemampuan berpikir yang normal, tetapi mereka membutuhkan cara belajar yang berbeda.


2. Gangguan Berhitung (Dyscalculia)

Dyscalculia adalah gangguan yang menyebabkan anak kesulitan dalam pelajaran matematika, terutama dalam berhitung.

Anak dengan dyscalculia biasanya mengalami kesulitan dalam:

  • memahami angka,

  • melakukan operasi hitung,

  • menyelesaikan soal matematika.

Kesulitan ini tidak disebabkan oleh masalah penglihatan, pendengaran, atau kondisi ekonomi. Anak hanya mengalami hambatan khusus dalam memahami konsep matematika.


3. Gangguan Menulis (Dysgraphia)

Dysgraphia adalah gangguan yang menyebabkan anak kesulitan dalam menulis.

Anak dengan dysgraphia biasanya mengalami masalah seperti:

  • tulisan yang sulit dibaca,

  • kesulitan menyusun kalimat,

  • kesulitan menuangkan ide dalam bentuk tulisan.

Padahal menulis merupakan kegiatan yang penting karena melibatkan kemampuan berpikir, menyusun ide, dan menyampaikan pendapat.

Gangguan ini dapat mempengaruhi prestasi akademik anak dan aktivitas belajarnya di sekolah.


Secara keseluruhan, gangguan belajar perlu dipahami oleh guru dan orang tua agar anak dapat memperoleh bantuan dan metode pembelajaran yang sesuai. Dengan dukungan yang tepat, anak yang mengalami gangguan belajar tetap dapat berkembang dan mencapai prestasi sesuai dengan potensinya.ima oleh kelompoknya.

4. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Pada usia kelas tinggi SD/MI, anak mulai ingin menunjukkan kemampuan dan meraih prestasi. Misalnya ingin menjadi juara kelas, atlet, atau memiliki cita-cita tertentu. Pada tahap ini guru perlu membimbing anak agar memiliki semangat berprestasi yang sehat dan positif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung.